
Hari baru saja berganti sejam lalu. Ala al-Jarwasya bersama istri dan dua putra mereka Muhammad, 3 tahun, dan Ahmad, 1,5 tahun meringkuk di pojokan flat tempat tinggal mereka. Di luar suara ledakan seolah berlomba dengan raungan jet-jet tempur dan pengebom nirawak Israel.
Bagi Ala sekeluarga, malam adalah waktu tersulit sejak Israel melancarkan operasi militer bersandi Jaga Perbatasan Selasa lalu. Mereka harus berpindah dari satu pojokan ke sudut lain dalam rumah dirasa aman. Tetangga-tetangga mereka ada yang memilih berlindung di bawah tempat tidur.
Ini malam mencekam di mana kami tidak tahu siapa bakal jadi berita. Bisa jadi kami semua, kata lelaki 31 tahun ini kepada Aljazeera pekan lalu. Anak sulungnya, Muhammad, memeluk erat-erat kakinya meminta Ala tidak bergeser.
Tidak ada yang tidur malam itu. Kebiasaan ini terpaksa mereka lakoni sudah lima hari belakangan. Ayah, kita akan mati, ujar salah satu anaknya berurai air mata.
Keluarga Jarwasya memang pantas cemas. Tempat tinggal mereka hanya beberapa ratus meter dari kediaman salah satu pentolan Hamas di Jalur Gaza. Jumat subuh lalu, rumah mereka tergetar tiga kali saat ledakan terjadi dekat dari sana. Kami hanya percaya Allah bakal melindungi kami, tutur Jawasya.
Hingga kini 127 orang tewas akibat gempuran udara negara Zionis itu. Hampir seribu lainnya cedera dan 342 rumah rusak.
Israel membantah tudingan mereka menyasar penduduk sipil dan menegaskan hanya memburu anggota-anggota Hamas. Israel menargetkan teroris Hamas dan bukan warga sipil, kata Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Namun Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan 77 persen korban tewas di Gaza adalah warga sipil. Kami menerima laporan-laporan menyatakan banyak warga sipil, termasuk anak-anak, menjadi korban akibat serangan terhadap rumah-rumah, ujar Kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB Navi Pillay dalam pernyataan tertulis.
Semua keluarga di Gaza kini melewati malam-malam mereka dengan penuh ketakutan. Pecahan eluru kendali Israel tidak pandang bulu. Karena itulah saya tidak pernah suka malam, tutur Jawarsya diiringi tangis istri dan dua anaknya. Malam mengingatkan saya begitu rentannya kami dalam rumah tidak terlindungi.
RSS Feed
Twitter
01.12
Unknown
0 komentar:
Posting Komentar